TUESDAY, 28 JUNE 2011 12:49
SUBULUSSALAM - Wabah ulat bulu yang beberapa bulan lalu sempat heboh dan menjadi bahan pemberitaan di Pulau Jawa, kini sudah masuk wilayah Kota Subulussalam, tepatnya di Desa Muara Batu-Batu dan Panglima Sahman, Kecamatan Runding. Ratusan bahkan mungkin ribuan ulat bulu menempel dan merayap di sejumlah pohon dan dinding rumah penduduk.
“Ulat bulu sudah mulai masuk ke Runding, memang belum menyerang tanaman, tapi sudah banyak pohon-pohon yang tidak berdaun karena diserang ulat bulu,” kata Kepala Desa Panglima Sahman, Jaddam Basri.
Hingga kini warga belum tahu pastinya nama ulat bulu tersebut. Warnanya ada yang hitam dan kuning, ada yang besar dan sebesar jari kelingking. Jaddam mengatakan, keberadaan ulat bulu di daerahnya baru diketahui warga sekitar tiga hari terakhir. Hal itu setelah puluhan ulat bulu menempel ke dinding rumah penduduk. “Baru beberapa hari ini diketahui itupun setelah menempel ke rumah-rumah warga, kalau tidak disapu makin banyak,” ujar Jaddam.
Jaddam juga memperlihatkan puluhan batang pohon di sekitar rumah penduduk yang kondisinya sudah tanpa daun akibat diserang. Sejauh ini, ulat bulu itu baru menyerang pohon yang dalam bahasa setempat disebut ‘bumbung’. Namun, banyaknya jumlah ulat bulu yang dikuatirkan akan merembet ke sejumlah tanaman pertanian dan perkebunan masyararakat.
“Kalau ini dibiarkan akan merembet ke tanaman pertanian masyarakat, kalau sempat sayuran yang diserang maka petani akan menderita,” tambah Jaddam. Karena itu, ia meminta instansi terkait di Pemko Subulussalam turun tangan guna melakukan tindakan pencegahan sebelum wabah ulat bulu di Runding semakin merebak.
Sumber waspada.co.id
Tampilkan postingan dengan label Konflik Satwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konflik Satwa. Tampilkan semua postingan
Kamis, 04 Agustus 2011
Selasa, 03 Mei 2011
Bertarung Setengah Jam, Hasan Selamat dari Cengkraman Harimau
Mon, Mar 21st 2011, 08:15

Hasan Basri (53) penduduk Desa Jabi-Jabi, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam memperlihatkan luka gores di tangannya pasca bertarung dengan seekor harimau, Sabtu (19/3) di dekat sebuah makam keramat, Desa Geruguh, Kecamatan Runding. PROHABA/KHALIDIN
SUBULUSSALAM - Layaknya film actioan, Hasan Basri mampu menaklukkan kekejaman harimau. Pria yang berusia 53 tahun itu sempat bertarung setengah jam dengan si belang. Alhasil, warga Jabi-Jabi, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam itu berhasil menyematkan diri dari terkaman Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumaterae).
Peristiwa yang cukup menggemparkan itu terjadi pada Sabtu (19/3) lalu, sekira pukul 10.30 WIB, di dekat sebuah makam keramat Geruruh lama, Kecamatan Runding.
Sejak Jumat malam, pria yang sudah enam tahun menekuni profesi sebagai nelayan tradisional pencari belut itu memang mempunyai firasat buruk. Akibatnya, dia pun tak bisa tidur. Namun, pagi harinya, meski dalam kegalauan hati, Hasan terpaksa pergi ke hutan di mana bubu-nya (pengakap belut-red) dipasang demi kebutuhan sehari-hari.
Lokasi mencari belut berjarak sekitar dua jam perjalanan dengan perahu motor dari Jabi-Jabi. Sedangkan dari tepi sungai mencapai dua kilometer. Sebagaimana lazimnya, setiap berangkat kerja, Hasan pergi bersama istrinya, Sendek (49), untuk mengurus padi di sawah mereka.
Setiba di Geruguh, Hasan meninggalkan istrinya di sawah. Kemudian, dia melanjutkan perjanan tempat dia mengambil belut. Sekitar 200 meter sebelum tiba di lokasi, tiba-tiba muncul seekor harimau berukuran 2,5 meter dari arah sebelah kanannya. Spontan, harimau tersebut menyerang Hasan. Meski terkejut, Hasan berhasil mengelak dari cakaran hewan ganas itu.
Pertarungan sengit pun terjadi antara harimau dengan Hasan seorang diri. Cakaran demi cakaran, saling tampar, dan saling serang dilakoni Hasan. Dia sempat bergumul selama 30 menit dengan binatang dilindungi tersebut. Beberapa kali Hasan terjerembab ke tanah dan sempat diinjak-injak sang raja hutan.
Hasan tak lantas menyerah. Dia terus berusaha melawan sekuat tenaga membacok dengan golok. Namun, sang harimau menangkisnya. “Saya dicakar tapi meleset. Saya bacok meleset juga. Saya terjatuh diinjak, tapi bangun lagi kemudian saya bacok kaki depannya,” terang Hasan.
Bacokan kedua Hasan mengenai kaki depan sang harimau itu hingga tersungkur. Dengan keahlian ilmu bela diri--dalam bahasa setempat disebut Tari Biyahat (tari harimau-red)--yang ia miliki, Hasan melumpuhkan harimau tersebut. Tak hanya itu, ia juga mengerahkan ilmu pengunci mulut atau taring serta cakar harimau.
Meski mempu menaklukkan si belang, baju dan celana Hasan compang-camping akibat cakaran sang raja hutan itu. Walau tidak parah, luka gores tampak di lengan, kaki, dada, dan pundak Hasan.
Pasca-pertarungan tersebut, Hasan kelelahan. Namun dia berusaha pergi meninggalkan lokasi kejadian dengan cara mundur selangkah demi selangkah. “Jika pergi membelakangi, saya khawatir harimau tersebut kembali bangkit dan menyerang saya,” ujarnya kepada Prohaba, kemarin.
Usai itu, Hasan menjemput istrinya, lalu pulang ke rumah. Menurut istrinya, saat berada di perahu, Hasan masih setengah sadar. Dia sering memainkan tangannya, seolah-olah sedang bertarung. Bahkan, saat telah sampai di rumah, Hasan sempat beberapa kali seperti akan menyerang. Tidak berselang lama, dia terkulai lemah.
Para kerabat dan tetangga berdatangan memberikan pertolongan dengan mengicik obat tradisional, untuk mengembalikan semangat orang yang baru mengalami peristiwa mengerikan. Dia dipeusijuk dan disuntik, agar luka cakar tidak inpeksi. Ratusan warga lain terus bedatangan sekadar memberikan ucapan selamat atas tragedi yang nyaris merenggut nyawa itu.
Hasan mengaku, harimau yang bertarung dengannya bukan Mbakhak--istilah warga setempat harimau peliharaan orang-orang sakti atau ulama--melainkan harimau liar. Sebab, menurut dia, Mbakhak tidak mau menyerang manusia.
“Saya tidak berani lagi ke lokasi itu. Apalagi, saya tidak dapat memastikan apakah harimau tersebut benar-benar mati. Kalau tidak, maka dia akan semakin ganas karena gagal menerkam saya,” kata Hasan.(kh)
Sumber : Serambinews.com

Hasan Basri (53) penduduk Desa Jabi-Jabi, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam memperlihatkan luka gores di tangannya pasca bertarung dengan seekor harimau, Sabtu (19/3) di dekat sebuah makam keramat, Desa Geruguh, Kecamatan Runding. PROHABA/KHALIDIN
SUBULUSSALAM - Layaknya film actioan, Hasan Basri mampu menaklukkan kekejaman harimau. Pria yang berusia 53 tahun itu sempat bertarung setengah jam dengan si belang. Alhasil, warga Jabi-Jabi, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam itu berhasil menyematkan diri dari terkaman Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumaterae).
Peristiwa yang cukup menggemparkan itu terjadi pada Sabtu (19/3) lalu, sekira pukul 10.30 WIB, di dekat sebuah makam keramat Geruruh lama, Kecamatan Runding.
Sejak Jumat malam, pria yang sudah enam tahun menekuni profesi sebagai nelayan tradisional pencari belut itu memang mempunyai firasat buruk. Akibatnya, dia pun tak bisa tidur. Namun, pagi harinya, meski dalam kegalauan hati, Hasan terpaksa pergi ke hutan di mana bubu-nya (pengakap belut-red) dipasang demi kebutuhan sehari-hari.
Lokasi mencari belut berjarak sekitar dua jam perjalanan dengan perahu motor dari Jabi-Jabi. Sedangkan dari tepi sungai mencapai dua kilometer. Sebagaimana lazimnya, setiap berangkat kerja, Hasan pergi bersama istrinya, Sendek (49), untuk mengurus padi di sawah mereka.
Setiba di Geruguh, Hasan meninggalkan istrinya di sawah. Kemudian, dia melanjutkan perjanan tempat dia mengambil belut. Sekitar 200 meter sebelum tiba di lokasi, tiba-tiba muncul seekor harimau berukuran 2,5 meter dari arah sebelah kanannya. Spontan, harimau tersebut menyerang Hasan. Meski terkejut, Hasan berhasil mengelak dari cakaran hewan ganas itu.
Pertarungan sengit pun terjadi antara harimau dengan Hasan seorang diri. Cakaran demi cakaran, saling tampar, dan saling serang dilakoni Hasan. Dia sempat bergumul selama 30 menit dengan binatang dilindungi tersebut. Beberapa kali Hasan terjerembab ke tanah dan sempat diinjak-injak sang raja hutan.
Hasan tak lantas menyerah. Dia terus berusaha melawan sekuat tenaga membacok dengan golok. Namun, sang harimau menangkisnya. “Saya dicakar tapi meleset. Saya bacok meleset juga. Saya terjatuh diinjak, tapi bangun lagi kemudian saya bacok kaki depannya,” terang Hasan.
Bacokan kedua Hasan mengenai kaki depan sang harimau itu hingga tersungkur. Dengan keahlian ilmu bela diri--dalam bahasa setempat disebut Tari Biyahat (tari harimau-red)--yang ia miliki, Hasan melumpuhkan harimau tersebut. Tak hanya itu, ia juga mengerahkan ilmu pengunci mulut atau taring serta cakar harimau.
Meski mempu menaklukkan si belang, baju dan celana Hasan compang-camping akibat cakaran sang raja hutan itu. Walau tidak parah, luka gores tampak di lengan, kaki, dada, dan pundak Hasan.
Pasca-pertarungan tersebut, Hasan kelelahan. Namun dia berusaha pergi meninggalkan lokasi kejadian dengan cara mundur selangkah demi selangkah. “Jika pergi membelakangi, saya khawatir harimau tersebut kembali bangkit dan menyerang saya,” ujarnya kepada Prohaba, kemarin.
Usai itu, Hasan menjemput istrinya, lalu pulang ke rumah. Menurut istrinya, saat berada di perahu, Hasan masih setengah sadar. Dia sering memainkan tangannya, seolah-olah sedang bertarung. Bahkan, saat telah sampai di rumah, Hasan sempat beberapa kali seperti akan menyerang. Tidak berselang lama, dia terkulai lemah.
Para kerabat dan tetangga berdatangan memberikan pertolongan dengan mengicik obat tradisional, untuk mengembalikan semangat orang yang baru mengalami peristiwa mengerikan. Dia dipeusijuk dan disuntik, agar luka cakar tidak inpeksi. Ratusan warga lain terus bedatangan sekadar memberikan ucapan selamat atas tragedi yang nyaris merenggut nyawa itu.
Hasan mengaku, harimau yang bertarung dengannya bukan Mbakhak--istilah warga setempat harimau peliharaan orang-orang sakti atau ulama--melainkan harimau liar. Sebab, menurut dia, Mbakhak tidak mau menyerang manusia.
“Saya tidak berani lagi ke lokasi itu. Apalagi, saya tidak dapat memastikan apakah harimau tersebut benar-benar mati. Kalau tidak, maka dia akan semakin ganas karena gagal menerkam saya,” kata Hasan.(kh)
Sumber : Serambinews.com
Kamis, 21 April 2011
Betis Hasanuddin Digigit Babi Hutan
Sun, Mar 13th 2011, 08:18
SUBULUSSALAM - Nasib naas menimpa Hasanuddin (35). Petani asal Sigrun Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, ini mengalami luka serius setelah diserang seekor babi hutan, Sabtu (12/3) siang. Akibatnya, korban mendapat perawatan di Puskesmas Sultan Daulat karena terdapat tujuh gigitan babi di betisnya.
Informasi dihimpun Prohaba, serangan babi hutan yang cukup besar itu terjadi sekitar pukul 13.30 WIB. Kala itu, Hasanuddin membersihkan kebun coklat miliknya di Pulo Kambing, sekitar tiga kilometer dari rumahnya. Ketika tengah bekerja, tanpa diduga muncul seekor babi besar, langsung menyeruduknya. Hasanuddin berusaha menangkis serangan tersebut. Namun, tak berarti apa-apa sehingga beberapa tandukan dan gigitan babi ini mendarat di kaki dan lengan Hasanuddin.
Dalam keadaan tak siap, Hasanuddin terjatuh dengan tujuh gigitan di betis dan satu pada bagian lengan. Kedalamannya sekitar empat sentimeter. Hasanuddin berhasil diselamatkan setelah keponakannya, Mardinsah (15) menolong. Mardinsah bersama ibunya, Santi (35), membunuh babi ganas tersebut dengan cara menombak. Hasanuddin yang mengalami luka serius dievakuasi istrinya, Nuraini, bersama warga lain ke puskesmas setempat.
Hasanuddin mendapat perawatan medis dengan 21 jahitan. Setelah hampir dua jam pascakejadian, Hasanuddin baru sadarkan diri. Catatan Prohaba, peristiwa serangan babi terhadap manusia di wilayah Subulussalam tergolong langka. Kasus konflik hewan dengan manusia terakhir terjadi pada 2009, yaitu amuk gajah terhadap seorang petani di Lae Langge, Kecamatan Sultan Daulat. Warga mengaku babi hutan merupakan salah satu hama yang sulit dibasmi.(kh)
Sumber : Serambinews.com
SUBULUSSALAM - Nasib naas menimpa Hasanuddin (35). Petani asal Sigrun Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, ini mengalami luka serius setelah diserang seekor babi hutan, Sabtu (12/3) siang. Akibatnya, korban mendapat perawatan di Puskesmas Sultan Daulat karena terdapat tujuh gigitan babi di betisnya.
Informasi dihimpun Prohaba, serangan babi hutan yang cukup besar itu terjadi sekitar pukul 13.30 WIB. Kala itu, Hasanuddin membersihkan kebun coklat miliknya di Pulo Kambing, sekitar tiga kilometer dari rumahnya. Ketika tengah bekerja, tanpa diduga muncul seekor babi besar, langsung menyeruduknya. Hasanuddin berusaha menangkis serangan tersebut. Namun, tak berarti apa-apa sehingga beberapa tandukan dan gigitan babi ini mendarat di kaki dan lengan Hasanuddin.
Dalam keadaan tak siap, Hasanuddin terjatuh dengan tujuh gigitan di betis dan satu pada bagian lengan. Kedalamannya sekitar empat sentimeter. Hasanuddin berhasil diselamatkan setelah keponakannya, Mardinsah (15) menolong. Mardinsah bersama ibunya, Santi (35), membunuh babi ganas tersebut dengan cara menombak. Hasanuddin yang mengalami luka serius dievakuasi istrinya, Nuraini, bersama warga lain ke puskesmas setempat.
Hasanuddin mendapat perawatan medis dengan 21 jahitan. Setelah hampir dua jam pascakejadian, Hasanuddin baru sadarkan diri. Catatan Prohaba, peristiwa serangan babi terhadap manusia di wilayah Subulussalam tergolong langka. Kasus konflik hewan dengan manusia terakhir terjadi pada 2009, yaitu amuk gajah terhadap seorang petani di Lae Langge, Kecamatan Sultan Daulat. Warga mengaku babi hutan merupakan salah satu hama yang sulit dibasmi.(kh)
Sumber : Serambinews.com
Langganan:
Postingan (Atom)